Langsung ke konten utama

Pergi 'tuk kem-Bali (Part I)


"PINTU YANG TERBUKA"


[RUMAH]

              “Kamu yakin lusa nggak mau aku temenin kesana?” tanya Erry sore itu sambil memasukkan barang yang akan aku bawa.

              “Iya, yakin kok.” Timpal Dennys.


[SURABAYA]

Keesokan harinya.
Siang ini sekitar pukul 12.00, Dennys sudah berada di Stasiun Kereta Api Gubeng, keberangkatannya masih 10 menit lagi. Ia memilih untuk menunggu duduk bersama Erry di ruang tunggu. Hari ini sebenarnya adalah hari yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari, namun baru terealisasikan sekarang. Perjalanannya kali ini tak jauh. Hanya ke Bali. Dennys sedang merindukan Bali, beserta guratan kenangan yang terukir dalam diingatan.
…………………………………………………………………………………………………........
“Semuanya udah disiapin, kan?” Ucap Erry memecah suasana, kala itu Dennys sedang sedikit melamun.
“Eh, Udah kok.” Jawabnya dengan gelagapan.

“Kameramu? Chargernya? Powerbank? Minyak angin? Cemilan? Minum? Masker? ….” ucap Erry berderet seperti kereta api yang sedang terparkir di rel.

“Udah! Udah! Udah! Semuanya udah lengkap kok. Ntar bakal tak kabarin terus kok. Oke ?” timpalku mengakhiri pertanyaan berentet itu.

“Iya deh. Oh ya, aku udah hubungin Omku buat mobil yang mau kamu pakai nanti. Rumahnya nggak jauh dari stasiun, jadi sewaktu-waktu kalo mau ambil mobilnya nanti kamu bisa langsung hubungi Om Rio ya!?” timpal Erry.

“Oh iya iya, ya udah deh, aku masuk aja deh sekarang. Itu loh mbak-mbak operator udah manggil-manggil penumpang, hehehe.” Ucapku.

Erry kembali mengangguk sambil tersenyum, “Iya deh, hati-hati loh. Semoga  menyenangkan.” Ucapnya sambil mengelus pundakku.

“Iya, makasih” jawab Dennys sambil mengambil tas yang sedari tadi aku taruh bawah.

“Ohya, satu lagi…”

“Apaan?” tanya Dennys ingin tahu.

“Oleh-olehnya jangan lupa!”

Dennys terkekeh “Ya pastilah, apa sih yang nggak buat elo? hati-hati pulangnya by the way.”

Erry pun mengangguk. Akhirnya mereka berdua pun saling beranjak dari peraduan masing-masing. Erry beranjak pulang dan Dennys beranjak pergi.
Dennys sudah berada di bagian dalam stasiun, matanya terpejam lalu kuambil nafas yang dalam, kemudian ia membuka matanya dan menghembuskan nafas panjang. Tubuhnya seakan-akan seperti kembali lagi ke 5 tahun yang lalu, dalam kepalanya ia kembali ingat rasanya seperti apa, mulai dari hembusan anginnya, udara panasnya, suasananya, semuanya terasa masih sama seperti yang aku ingat.
Tak lama kereta telah tiba, gerbang pun telah dibuka oleh para petugas KAI. dengan cekatan kaki Dennys bergerak cepat sambil memegang tiket kereta api menghitung nomor gerbong dengan seksama. Kali ini aku sengaja memilih di gerbong 6, gerbong paling belakang. Ia pun berlari kecil menghampiri gerbong 6 yang jaraknya sedikit membuatku terengah-engah itu. Tak lama Dennys pun masuk ke dalam gerbong. Lumayan ramai kondisinya. Ia melihat ada beberapa penumpang ‘bule’ yang entah darimana itu asal mereka sedang asik mengobrol hebat diantara para pribumi. Selanjutnya ia mencari nomor kursiku, nomor 14E. Syukurlah kursi 14E masih kosong penumpang. Ia menaruh tasnya diatas lalu ia merebahkan punggungnya dikursi. Beberapa ada perubahan dari pelayanan kereta ini, seperti kursi yang semakin nyaman, jendela yang semakin bening dan meja yang sudah semakin luas. Dahulu meja ini hanya muat untuk 2 botol minuman saja.

Dalam beberapa menit, tiba-tiba kereta ini bergerak, kereta pun beranjak dari peraduannya. Lepas dari kawasan kota Surabaya memasuki kawasan Pasuruan, ia melihat hamparan sawah yang hijau membentang, juga penampakan gunung Penanggungan dan gunung Welirang yang berjajar terlihat megah dari sini. Matanya tak sanggup berkedip jika yang ditampilkan seperti ini indahnya. Kereta ini melaju kencang menuju tujuan akhirnya yaitu Stasiun Banyuwangi Baru, dengan sedikit mampir di beberapa stasiun yang dilewatinya.
Lama terdiam menikmati pemandangan, ia mengalihkan pandangannya pada sebuah benda yang sedang ia pegang, sebuah kotak kayu.
“Permisi pak, mau tanya, ini gerbong nomer 6, ya?” Tanya seseorang penumpang pada penumpang di belakangnya yang terdengar oleh telinga Dennys. Sontak ia mengintip dari balik kursinya ia duduk. Ia melihat seorang pria menggunakan tas carier yang cukup besar.
“Ini pendaki gunung ceritanya nyasar di kereta nih?” dalam hatinya ia bicara. Lalu ia berlalu dari hal tersebut, kembali menatapi benda ditangannya itu.
“Misi bro, nomer 14 ini ya?” Orang yang ia pandangi tadi bertanya padanya.
“Iya. Ini nomer 14” jawab Dennys. “Nomer 14 berapa?” lanjutnya.
“I4 C, nih. Disini ya?” tanyanya lagi.
“Iya, nih depanku” ucap dennys.
Akhirnya orang itu pun duduk, membereskan barang-barangnya yang sedikit lebih banyak dari barang Dennys. Namun Dennys tidak memperdulikan apa yang orang itu lakukan, dia menunduk memandangi benda kotak itu.
“Mau kemana, bro?”

Pertanyaan itu mengagetkannya. Membuat kepalanya mendongak kembali.

“Mau ke Bali, tapi ke Banyuwangi dulu. Mas nya mau kemana?” ucap Dennys.

“Oh kebetulan sama nih, mau ke Bali juga. Pertama kali nih.” Timpalnya senang. “Kalo boleh tau siapa namanya bro biar akrab lah kita?” ia menyodorkan tangannya pada Dennys.
“Dennys.” Ia menerima jabat tangannya, sembari menaruh lagi kotak itu kedalam tasnya.

“Gue Raka..eh Sorry. Aku Raka.” Kenalnya terbata-bata.

“Udah bro, kalo emang biasa ngomong gue-elo, pake aja gue-elo. Santai aja sama aku”  ucap Dennys terkekeh sambil mencairkan suasana.

“Hahaha iya nih, nggak biasa gue make aku-kamu,” ucapnya menerangkan kebiasaanya.

“Emang asli mana sih, kamu?” Tanya Dennys

“Dari Bekasi. Lo?” tanyanya balik.

“Dari Surabaya sendiri sih, btw ada acara apa ke Bali?” Tanya Dennys kepo.

“Iya, jadi gue ke Bali itu….”

Raka menjelaskan bahwa kepergiannya ke Bali adalah untuk berkunjung ke rumah temannya di Gianyar. Dia dan temannya sudah merencanakan untuk mendaki Gunung Agung di Karangasem. Dennys pun mencondongkan dirinya kepada Raka, obrolan ini semakin menarik baginya ketika Raka menyebutkan perjalanannya itu. Raka menerangkan bahwa ini adalah pertama kalinya ia mendaki gunung di Bali, tujuannya tidak tanggung-tanggung, ia ingin langsung mendaki gunung tertinggi di Bali dan yang bernuansa mistis itu. Dan banyak lagi yang diceritakan oleh Raka tentang perjalanannya ke Bali kali ini.
“Tapi sebelumnya udah pernah muncak?” Tanya Dennys.
“Baru dua kali, dan ini bakal jadi yang ketiga kalinya gue muncak” ucap Raka. “Kemarin sih masih muncak di gunung yang cemen-cemen aja, tapi kalo yang satu ini, tantangan” lanjut Raka.
“Semangat banget nih, sob? Hahaha baru dua kali muncak, gunung cemen katamu, terus sekarang langsung ke Gunung Agung” ucap Dennys
“Iya, bro. Dulu masih muda-mudanya gue orangnya serba nggak boleh sama orang tua. Mumpung gue udah gede sekarang, gue bakal lakuin semua hal yang gue pendem lama, sampek tujuan gue, sampek hasrat gue udah tercapai. Salah satunya ya ini, puncak Gunung Agung.” ucap Raka bersemangat. “Jadi apa-apa yang Lo dulu belum pernah lo lakuin, mending lakuin sekarang, keburu nggak ada kesempatan lagi” ucap Raka bersemangat.

Dennys mengangguk-angguk sambil tersenyum tipis. Sebenarnya ada yang sedikit menohok hatinya saat ia mendengarkan semua kata-kata yang terucap dari mulut Raka yang membara, dan seperti ada sebuah pintu yang terbuka kembali dari dalam hati Dennys.

Komentar